Setelah Anda mendaftar pada salah satu free server, maka langkah terakhir supaya halaman web Anda dapat dilihat semua orang adalah upload atau mengirim file ke web server.
Ada dua macam cara yang digunakan untuk mengirim file ke web server, yaitu langsung melalui browser atau melalui FTP (File Transfer Protocol). Untuk itu Anda harus mengetahui cara mana yang didukung oleh web server Anda. Sekedar contoh, www.homepage.com menggunakan browser untuk upload, www.virtualave.net menggunakan FTP sedangkan untuk www.tripod.com bisa menggunakan browser atau FTP. Yang akan dibahas di sini adalah mengirim file dengan menggunakan FTP.
Software yang dapat digunakan adalah WS FTP atau CuteFTP. (jangan bingung dengan kata FTP dengan WS FTP atau CuteFTP. FTP adalah protocol yang digunakan untuk berhubungan dengan web server, sedangkan WS FTP atau CuteFTP adalah software yang digunakan untuk berhubungan dengan web server. Singkatnya WS_FTP dan CuteFTP adalah software yang mendukung protocol FTP untuk berhubungan dengan web server).
Untuk langkah-langkah yang kami berikan di bawah ini menggunakan software CuteFTP dan web server www.virtualave.net. Anda dapat menerapkan langkah ini pada WS_FTP atau software FTP lainnya dan web server lainnya, karena pada prinsipnya adalah sama.
Dari menu FTP pilih Quick Connect.
Isi pada kolom host address, user ID dan password dengan yang diberikan web server kepada Anda. Kalau di virtualave.net misalnya host address = s36.virtualave.net, user id = winfolder, password = sda45sddf.
Klik OK.
Tunggu beberapa saat sampai CuteFTP sampai berhasil connect dengan web server.
Jika koneksi berhasil akan muncul kotak dialog berisi keterangan-keterangan. Klik OK saja.
Sekarang Anda lihat pada kolom sebelah kanan. Itu merupakan folder yang terletak pada web server Anda. Nampak folder bernama public_html. Klik dua kali folder tersebut. Nah, di folder itulah Anda harus meletakkan file-file Anda.
Kolom sebelah kiri merupakan letak dari file di komputer Anda. Untuk itu pindah ke folder tempat Anda menyimpan file yang akan di-upload.
Blok-lah file yang akan di-upload, lalu klik kanan dan pilih upload.
Selesai sudah proses upload tersebut.
Sebagai tambahan, Anda dapat membuat folder/directory baru pada web server Anda. Caranya klik kanan pada kolom sebelah kanan, pilih Make Directory, klik OK.
Untuk perintah-perintah lainnya dapat Anda pelajari sendiri
Minggu, 16 Desember 2007
Upload ke web server
Diposting oleh alfa_zR di 22.17 0 komentar
Label: WebDesign dan Animasi
Langkah-langkah Dalam Pembuatan Web Site
Setelah Anda membuat desain-nya maka yang harus segera Anda lakukan adalah mendaftarkan pada salah satu free web server untuk menempatkan desain kita. Untuk itu Anda bisa memilih pada salah satu free web server yang ada yang alamatnya terletak di bawah ini.
Terdapat dua macam free web server yaitu yang mengijinkan untuk akses ke direktori cgi-bin dan free web server yang tidak mengijinkan akses ke direktori tersebut. Dengan akses ke cgi-bin maka kita bisa menempatkan script kita sendiri. Misalnya script untuk buku tamu, mailing list, counter, dll. Dengan script yang dibuat sendiri maka Anda bisa membuat buku tamu tanpa perlu dijejali dengan iklan.
Tapi sebelum melakukan upload (mengirim file ke server) Anda bisa melengkapi web site Anda dengan :
Buku Tamu
Sehingga para netter yang mampir ke situs Anda dapat meninggalkan pesan, kritik atau sekedar komentar mengenai web Anda.
Counter
Dengan counter Anda bisa mengetahui berapa orang yang telah berkunjung ke situs Anda.
Mailing List
Kalau situs Anda dirasa berbobot Anda bisa melengkapi dengan mailing list. Sehingga orang yang terdaftar pada mailing list situs Anda akan mengetahui (misalnya) kapan situs tersebut di update.
Diposting oleh alfa_zR di 22.15 0 komentar
Label: WebDesign dan Animasi
Tips untuk web design
Apakah para pengembang web memahami berapa lama orang akan mengunjungi websitenya?
Apakah kita adalah internet newbie atau pemasar berpengalaman, kita perlu memahami hal terbaik tentang website, disain menjadi bagian yang menyangkut sukses kenyamanan.
Berikut tips untuk kesuksesan sebuah web:
1. Navigasi
Kita pernah bahas bagian ini pada artikel merancang navigasi website
Ketika orang datang ke website kita mereka pada umumnya mencari sesuatu yang khusus.Misal resep untuk diet rendah, sehat dan mencarinya serta menyiapkannya kurang dari beberapa menit atau apa yang merupakan bisnis terbaik untuk dimulai secara online.
Apapun yang pengunjung inginkan, kita harus mempunyai jawaban untuk itu. Maka tanyakan pada diri kita,kenapa orang-orang datang ke website kita? Ketika kita mengetahuinya kemudian kita harus membuatnya gampang untuk mereka temukan apa yang mereka cari.
2. Grafis
Jika kita menjalankan suatu site profesional, dan tidak menggunakan grafis/gambar2 yang menyenangkan, maka jangan harap orang akan mau berlama-lama di website kita. Orang datang keweb
kita untuk mencari informasi. Tidak untuk klik suatu iklan atau mengasah otak saja.
Membuat website menjadi lingkungan menyenangkan bagi pengunjung untuk menikmatinya. Memikirkan seperti kita pergi ke mall. Kita ingin masuk suatugudang/ toko yang bersih, yang dipersiapkan, mempunyai layanan baik pada pelanggan dan produk yang sedang dicari. Website kita perlu mencerminkan hal ini. Jika ada apa yang kita harapkan didalamnya
seperti pengalaman berbelanja, pengunjung akan menikmati apa yang sedang mereka cari diwebsite kita.
3. Warna
Ya, bagian ini juga sudah kita bahas di artikel sebelumnya. (link)
Warna adalah pilihan perorangan, tetapi studi menunjukkan warna itu mempunyai suatu pengaruh pada emosi publik.
Jika kita mempunyai suatu lokasi investasi keuangan,
Pilih warna konservatif. Atau jika kita menjual materi pantai, maka pilihlah warna yang lembut.
4. About Us
Orang pada umumnya ingin mengetahui hal-hal dasar sebelum mereka berbisnis dengan kita. Siapa kita, bagaimana cara mereka mendapatkan suatu pegangan dari kita, apa produk kita atau garansi jaminan, kapan mereka akan mendapatkan produk, dan lain lain. Kita harus menjawab
pertanyaan ini untuk menciptakan kepercayaan antara kita dan pelanggan potensial.
5.Sitemap
Anggaplah kita mempunyai banyak sumber daya dan halaman atau produk.
Sitemap membantu pengunjung untuk temukan apa yang sedang mereka cari dengan cepat tanpa harus menggeledah keseluruhan situs.
Hal ini sangat bermanfaat untuk website yang berskala besar, karena membantu pencarian untuk mengetahui apa yang ada disekitar dengan cepat.
6. Loading yang cepat
Tidak ada yang lebih buruk dibanding loading halaman website yang lambat. Kita dapat mengoptimalkan grafik untuk website. Orang benci untuk menunggu. Kamu dapat memeriksa halaman dan waktu beban halaman tergolong pada Alexa.Com.
Lambatnya halaman sama artinya bagi kematian suatu bisnis online.
7. Shopping Cart
Jika kita sedang menjual jasa atau materi,kita memerlukan suatu yang dapat diorganisir baik dan dapat dipercaya.kita lihat beberapa websites
mempunyai suatu banyak produk mendaftar dan email untuk pemesanan.
Apakah suatu mimpi buruk! Ya, shoping cart menuntut kita untuk pembayaran, tetapi itu sangat berharga untuk menangani transaksi. Ada banyak shoping cart yang tersedia dan kita akan riset berdasar pada kebutuhan bisnis.
8.Templates atau Disain Asli
Orang-Orang sering berpikir untuk mempunyai suatu website yang dirancang akan berharga ribuan. Sehingga mereka memilih templates dan menyusun lokasi.
Tidak ada salahnya dengan pendekatan ini kecuali dapat menceritakan
perbedaan antara apa yang panggil “canned” site dan apa yang
diciptakan sejak awal. Selagi kita tidak berpikir suatu website yang
menggunakan templates akan mengurangi pengunjung, kita berpikir mungkin
tidak menarik.
9.Customer service
Ok, maka dari itu bagaimana layanan pelanggan suatu website didisain?
well, layanan pelanggan harus tertulis dilokasi kita. Dari tips,laporan gratis,jaminan, untuk mempercepat dan berbelanja/shop. Orang ingin mengetahui banyak tentang apa yang kita bicarakan dan dikirimi
barang-barang yang mereka ingin.Berilah sedikit dan dijaminan kita akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya.
Diposting oleh alfa_zR di 22.06 0 komentar
Label: WebDesign dan Animasi
Membuat halaman web pertama

Dari menu File pilih New.
Tentukan title, warna background dan link untuk halaman web Anda. Dari menu Modify, pilih Page Properties.
Untuk mengganti warna background dan link, klik pada icon . Sedangkan untuk mengganti background image, klik pada tombol Browse.
Title = title atau judul halaman web
Background image = image yang digunakan sebagai background
Text = warna teks
Links, Visited Links, Active Links = warna link
Untuk mengakhiri klik tombol OK.
Supaya aman simpan dulu file tersebut dengan mengklik menu File - Save.
Diposting oleh alfa_zR di 16.55 0 komentar
Label: WebDesign dan Animasi
Mendeteksi browser yang dipakai pengunjung web


Seperti kita ketahui bersama antara Netscape Navigator dan Internet Explorer terdapat sedikit ketidakcocokan. Maksudnya ada kalanya suatu halaman web jika dilihat dengan IE dapat tampil dengan bagus sementara jika dilihat dengan NN agak sedikit acak-acakan. Atau sebaliknya.
Anda sebagai seorang designer web tentunya ingin mendapatkan tampilan web yang sempurna, baik jika dilihat dengan IE maupun NN. Untuk mengatasi masalah tersebut sebenarnya tidak susah-susah amat, salah satu caranya adalah dengan mendeteksi browser yang dipakai oleh client atau orang yang melihat web kita. Lalu halaman web yang akan ditampilkan disesuaikan dengan browser tersebut. Misalnya jika yang dipakai adalah IE maka yang ditampilkan adalah file satu.html, sedangkan jika yang dipakai adalah NN yang ditampilkan adalah file dua.html.
Kita akan mencoba membuat pendeteksi browser dengan menggunakan Macromedia Dreamweaver. Ikuti langkah-langkah berikut ini :
1. Dari menu Window, pilih Behaviors atau dengan menekan F8.
Dari combo box Events For, pilih IE 4.0. Tekan tombol , lalu pilih Check Browser.
2 Maka akan muncul window Check Browser seperti terlihat pada gambar di samping. Di sini Anda harus melakukan beberapa pengisian.
Jika yang digunakan adalah NN 4.0 maka .... Terdapat 3 pilihan yaitu, Stay on this Page, Go to URL, dan Go to Alt URL.
Jika Anda memilih Stay on this Page maka halaman inilah yang akan ditampilkan jika pengunjung web Anda memakai NN 4.0.
Sebaliknya pada bagian IE 4.0 Anda harus mengisinya dengan Go to URL dan pada bagian URL Anda harus mengisi dengan halaman web yang akan ditampilkan jika si pengunjung memakai IE 4.0.
3 Untuk mengaplikasikannya tekan tombol OK. Nah sekarang halaman web Anda sudah siap untuk mendeteksi browser yang digunakan oleh pengunjung web Anda.
Diposting oleh alfa_zR di 16.52 0 komentar
Label: WebDesign dan Animasi
Senin, 10 Desember 2007
Uang Plastik, Electronic Fund Transfer, dan Kliring Elektronik
Belakangan ini masyarakat perkotaan di Indonesia mulai terbiasa untuk menggunakan alat pembayaran non tunai untuk berbagai keperluan pembayaran, antara lain kartu kredit, kartu debet, kartu ATM dan kartu prabayar. Penggunaan kartu prabayar diyakini akan menjadi trend mekanisme pembayaran di masa mendatang, misalnya untuk membayar bahan bakar di pompa bensin, tiket tol, pembelian barang dan berbagai jasa-jasa lainnya.
Kartu Plastik
Semua proses aktivitas pembayaran melalui berbagai jenis alat pembayaran ini diproses oleh berbagai penyelenggara sistem pembayaran seperti bank dan nonbank. Institusi inilah yang nantinya menyelenggarakan jasa mulai proses pengiriman dana, kliring hingga settlement. Pemakaian kartu prabayar dalam mekanisme transaksi adalah bagian dari evolusi alat pembayaran dari uang tunai sampai ke bentuk-bentuk non-tunai. Misalnya alat pembayaran dalam bentuk kertas (paper based) seperti cek, wesel, bilyet giro hingga ke elektronik seperti kartu prabayar hingga ke wujud digital (digital cash).
Jumlah kartu plastik (Kartu Kredit, ATM, Debit, dan pra bayar) di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, seperti yang dilaporkan oleh Bank Indonesia pada tabel di bawah ini. Sampai bulan Juli 2007 tercatat 54 bank yang menerbitkan kartu ATM dan 21 penerbit kartu kredit yang terdiri atas perbankan, lembaga selain bank dan unit usaha syariah bank. Jumlah bank yang menerbitkan kartu ATM sekaligus kartu debit tercatat sebanyak 37 bank. Sedangkan kartu prabayar baru diterbitkan hanya oleh dua nama penerbit yaitu Telekomunikasi Indonesia dan Telekomunikasi Selullar. Peredaran dan penggunaan kartu tersebut juga melibatkan empat prinsipal kartu kredit dan tiga perusahaan pengelola switching. Infrastuktur Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) pun semakin meningkat, yang meliputi terminal ATM, Merchant, EDC, dan Imprinter.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, instrumen pembayaran khususnya yang menggunakan kartu (APMK) juga tumbuh dengan pesat. Tidak saja dari volume dan nilai yang ditransaksikan namun juga dari fitur, jenis, fungsi serta berbagai fasilitas yang diberikan kepada pemegang kartu. Menurut Bank Indonesia (2007), jenis APMK yang ada saat ini meliputi Kartu Kredit, Kartu ATM dan Kartu ATM yang berfungsi sekaligus sebagai Kartu Debit (ATM+Debit). Volume transaksi jenis APMK tersebut pada triwulan II-2007 tercatat 298,65 juta atau meningkat 8,04% dibanding triwulan sebelumnya. Sedangkan dari sisi nilai mencapai Rp419,86 triliun, meningkat 19,68% dari triwulan sebelumnya. Peningkatan transaksi tersebut didominasi oleh jenis transaksi transfer dana pada kartu ATM dan ATM+Debit. Pada triwulan ini mucul pula jenis instrumen pembayaran baru yakni kartu prabayar. Kartu ini digunakan untuk jenis pembayaran yang bersifat kecil (micropayment), karena batasan nominal yang ada pada kartu tersebut adalah satu juta rupiah dan dapat diisi kembali setelah digunakan. Mengingat jenis kartu ini masih relatif baru, aktivitas transaksi yang tercatat masih sangat kecil, dimana volume transaksi tercatat 16,73 ribu dengan nilai transaksi Rp210,41 juta (Bank Indonesia, 2007).
Angka-angka di atas menunjukkan bahwa peranan E-banking dalam meningkatkan layanan transaksi semakin meningkat. Peningkatan jumlah kartu plastik berserta jumlah dan nilai transaksinya merupakan salah satu indikator mulai tumbuhnya less-cash society atau masyarakat digital di Indonesia. Indikator tersebut terkait langsung dengan kegiatan transaksi yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri sesuai dengan sumber daya keuangannya yang tersimpan dalam atau dilewatkan melalui lembaga perbankan. Atau dengan kata lain, indikator tersebut merupakan hasil dari transaksi individual nasabah bank yang berada di sisi ”front end”. Bagaimana dengan transaksi antar lembaga sendiri yang dari kaca mata masyarakat- khususnya nasabah bank, merupakan layanan E-Banking yang berada di sisi ”back end”?
Real Time Gross Settlement
Sejak tahun 2000, Bank Indonesia memperkenalkan kepada stakeholder yakni perbankan nasional apa yang disebut real time gross settlement (RTGS). BI-RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi dan bersifat real time. Melalui mekanisme BI-RTGS ini rekening peserta dapat didebit dan dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran.
Setidaknya ada tiga alasan pokok mengapa BI memakai settlement melalui RTGS. Alasan pertama, jika membuka kembali literatur dan merujuk hasil studi empiris, ada semacam kesadaran baru dari bank-bank sentral di seantero jagad ini untuk mengelola Large Value Transfer System (LVTS). Sistem BI-RTGS dapat mengurangi risiko sistemik. Yang dimaksud dengan risiko sistemik adalah risiko kegagalan salah satu peserta dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Kegagalan bayar ini akan membuat peserta bank lain juga ikut terancam. Bahkan dalam situasi ekstrem, gagal bayar ini berpotensi memicu kesulitan finansial yang lebih luas yang dapat mengancam stabilitas sistem pembayaran.
Alasan kedua, melalui sistem RTGS dapat mengurangi timbulnya float yang diharapkan dapat menyokong efektifitas pengawasan perbankan. Pada sisi lain dengan pengelolaan likuiditas yang baik di sektor perbankan juga akan membantu efektifitas kebijakan moneter. Alasan ketiga, sistem RTGS membuka peluang integrasi dengan berbagai aplikasi sistem pembayaran. Sebut saja seperti pasar uang dan pasar modal yang menganut prinsip Delivery versus Payment (DVP) atau bisa juga melakukan transaksi secara cross border payment melalui Payment versus Payment (PVP).
Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai melalui aplikasi sistem BI-RTGS, antara lain dengan BI-RTGS transfer dana antar peserta lebih cepat, efisien, andal dan aman. Selain itu setidaknya ada kepastian settlement dengan lebih segera. Sistem BI RTGS ini akan memperlihatkan informasi rekening peserta secara real time dan menyeluruh. Bagi peserta RTGS juga dituntut untuk disiplin dan profesional dalam mengelola likuiditas mereka. Dan diharapkan melalui sistem RTGS ini akan mengurangi berbagai risiko settlement.
Saat ini aplikasi sistem BI-RTGS sudah berjalan di semua Kantor Bank Indonesia (KBI) di seluruh Indonesia. Sudah ada 148 peserta BI-RTGS yang terdiri atas 125 bank konvensional, 21 bank syariah/UUS dan dua peserta non-bank. Indonesia adalah negara kedelapan di Asia yang mengaplikasikan RTGS. Sedangkan di dunia baru ada 30 negara yang mengaplikasikannya. Jumlah dan nilai transaksi RTGS menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Bank Indonesia (2007) melaporkan bahwa komposisi nilai penyelesaian transaksi sistem pembayaran masih didominasi oleh sistem BI-RTGS. Selama triwulan II-2007 penyelesaian transaksi sistem BI-RTGS mencapai 93,09% dari total nilai transaksi, sementara melalui sistem kliring mencapai 3,15% dan sisanya melalui sistem yang dilaksanakan di luar Bank Indonesia. Penyelesaian transaksi melalui sistem RTGS dan kliring yang telah mencapai 96% tersebut dipandang telah mampu mendukung kestabilan sistem keuangan dalam memitigasi risiko gagal bayar transaksi sistem pembayaran. Dengan demikian, transaksi pembayaran di Indonesia yang belum ter-cover risikonya hanya sekitar 3,76%. Meski nilainya kecil, Bank Indonesia berusaha memitigasi risiko melalui penerapan rambu-rambu yang memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen.
Kliring Elektronik
Sebagaimana diketahui, sebelum settlement melalui RTGS diperkenalkan ke publik, ada settlement lain yang lazim dipakai yakni melalui sistem kliring. Metode yang dipakai sistem kliring berbeda jauh dengan RTGS. Sistem kliring menggunakan metode net settlement dalam rangka penyelesaian akhir. Net settlement adalah adalah proses penyelesaian akhir transaksi-transaksi pembayaran yang dilakukan pada akhir suatu periode dengan melakukan apa yang disebut off-setting antara kewajiban-kewajiban pembayaran dengan hak-hak penerimaan.
Data terakhir transaksi kliring pada triwulan II-2007 mengalami sedikit kenaikan dibanding triwulan sebelumnya. Nilai transaksi selama triwulan laporan tercatat sebesar Rp 333,2 triliun, naik 1,1% dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar Rp329,6 triliun. Dari sisi volume juga mengalami kenaikan sebesar 2,72%, dari 19,3 juta transaksi menjadi 19,9 juta transaksi.
Pada tahun 2007 ini Bank Indonesia telah memperluas implementasi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia di 18 wilayah kliring non Bank Indonesia. Dengan demikian, hingga akhir triwulan II-2007, wilayah yang telah mengimplementasikan SKNBI berjumlah 65 wilayah yang terdiri atas 37 wilayah KBI dan 28 wilayah non KBI.
Nilai transaksi pemindahan dana yang bersifat “back end” dari sisi pespektif nasabah tersebut menunjukkan bahwa lalu lintas uang di Indonesia sudah bersifat paperless- dengan nilai transaksi yang secara drastis meningkat tajam. Sebagai contoh, nilai BI-RTGS meningkat lebih dari 1000 triliun rupiah dalam 12 bulan terakhir atau meningkat lebih dari 60 persen. Sedangkan transaksi kliring meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama. Transaksi digital dengan nilai yang sangat besar tersebut tentunya memerlukan teknologi tinggi yang handal dan teruji
Diposting oleh alfa_zR di 08.36 0 komentar
Label: E-bussines
Internet untuk usaha kecil, kenapa tidak?
Keberadaan internet tidak diragukan lagi telah memberikan dampak besar terhadap semua sektor usaha. Dengan internet pelaku usaha bisa berbisnis dengan tidak mengenal batas ruang dan waktu. Tetapi apakah internet juga tidak mengenal batas kapasitas usaha? Dalam konteks tulisan ini adalah antara usaha kecil dan usaha besar?
Memang ada kecenderungan bahwa penggunaan internet pada usaha besar lebih intensif dibandingkan kelompok usaha kecil. Kecenderungan tersebut bukan berarti usaha kecil tidak bisa menggunakan internet untuk kepentingan usaha. Justru ruang dan waktu usaha di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan pelaku usaha kecil. Kementerian KUKM melaporkan bahwa jumlah usaha kecil di Indonesia pada tahun 2004 tercatat sebesar 43.158.468 unit atau 99,85 persen dari total unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 70.919.385 orang atau 89,24 persen dari total tenaga kerja yang bekerja di industri. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa usaha kecil mempunyai potensi yang luar biasa jika dilihat dari jumlah unit usaha dan tenaga kerja yang terlibat, yang jika diberdayakan bisa menjadi faktor pemicu yang signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi saat ini jumlah unit dan penyerapan tenaga kerja tersebut belum diimbangi dengan kontribusinya terhadap nilai Produk Domestik Bruto (PDB), nilai ekspor, dan investasi, seperti terlihat pada gambar 1.
Berbagai kebijakan sudah sering kita dengar mengenai pemberdayaan usaha kecil di Indonesia, misalnya program kemitraan dengan pengusaha besar, bantuan permodalan dari BUMN, atau penyaluran kredit perbankan khusus untuk usaha kecil. Tetapi aspek lain yang belum digarap secara optimal adalah penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), termasuk penggunaan internet. Padahal pemberdayaan usaha kecil melalui penerapan internet mempunyai peluang sangat besar untuk meningkatkan kontribusi usaha kecil terhadap perekonomian Indonesia. Alasannya sederhana saja yaitu pengggunaan internet bisa meningkatkan penyebaran informasi dan intensitas komunikasi, baik antar pelaku usaha kecil maupun dengan pembeli potensial. Selain itu, unit usaha kecil yang tersebar secara geografis dan trend penggunaan internet oleh mitra dagang juga bisa menjadi alasan lain untuk pemanfaatan internet oleh pelaku usaha kecil di Indonesia.
Masih Ada Peluang
Kondisi teknologi informasi di Indonesia sendiri relatif tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Ketertinggalan teknologi tersebut diantaranya bisa dilihat dari jumlah pengguna internet. Berdasarkan data dari International Telecommunication Union (ITU), jumlah pengguna internet di Indonesia untuk tahun 2004 tercatat sekitar 14,5 juta atau hanya 652 per 10.000 penduduk. Angka tersebut masih dibawah rata-rata asia dan dunia yang telah mencapai 818 dan 1370.
Perkembangan pengguna internet di Indonesia pada kurun waktu 2001 sampai 2004 dapat dilihat pada gambar 2. Terlihat bahwa kenaikan penetrasi internet di Indonesia tidak sebesar kenaikan rata-rata di Asia dan dunia. Andaikan saja 5 persen tenaga kerja yang terlibat di usaha kecil menjadi pengguna internet baru, pengguna internet di Indonesia bisa melewati rata-rata Asia.
Bagaimana gambaran umum mengenai penggunaan internet oleh pelaku usaha kecil di Indonesia bisa dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh Asia Foundation dan CastleAsia terhadap 227 usaha kecil dan menengah pada tahun 2002. Hasil survey menunjukkan bahwa 158 usaha atau 69,9 persen sudah menggunakan internet, dan sebagian besar memang digunakan oleh usaha kecil untuk berhubungan dengan pembeli dari luar negeri. Survey lain dilakukan oleh penulis bekerja sama dengan Himpunan Pengusaha Kecil Indonesia (HIPKI) terhadap 94 pelaku usaha kecil yang belum pernah mengikuti pelatihan internet. Hasilnya menunjukkan ada fenomena yang cukup menarik yaitu penggunaan TIK oleh pengusaha kecil ternyata bukan sesuatu yang langka. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan telpon seluler oleh sebagian besar pemilik usaha kecil. Memang tingkat adopsi penggunaan internet lebih rendah dibandingkan komputer dan internet, seperti terlihat pada gambar 3.
Penggunaan internet yang belum memasyarakat tersebut belum bisa diartikan bahwa internet tidak sesuai dengan kepentingan usaha kecil. Hal ini bisa dilihat dari fenomena lain yang cukup menarik. Pelaku usaha kecil yang tidak menggunakan internet sebelumnya, sebagian besar mempunyai keinginan untuk menggunakan internet pada 6 bulan ke depan, atau tergolong sebagai potential adopter seperti terlihat pada Gambar 4. Mereka sudah menyadari bahwa era informasi dan globalisasi sudah menjadi kenyataan. Penggunaan internet pun tinggal menunggu waktu. Apalagi perkembangan teknologi sekarang menunjukkan bahwa komputer dan internet sudah semakin user-friendly dan tidak memerlukan keahlian tinggi kalau hanya sebagai pengguna akhir (end users).
Jadi masih terbuka peluang bahwa penetrasi internet di kalangan pelaku usaha kecil masih bisa ditingkatkan di masa yang akan datang. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan mereka untuk mengadopsi (atau tidak mengadopsi) internet dilihat dari perspektif para pelaku usaha kecil. Berbagai teori atau model adopsi teknologi- mulai dari Technology Acceptance Model-nya Davis (1989) sampai Unified Theory of Acceptance and Use of Technology-nya Venkantesh (2003)- secara umum menyimpulkan hal yang sama yaitu niat dan prilaku penggunaan teknologi informasi dipengaruhi oleh persepsi dan sikap individu pengguna akhir. Padahal persepsi dan prilaku tersebut bisa berubah dan dipengaruhi oleh intervensi dari pihak eksternal.
Merubah Persepsi
Mengacu ke rencana induk pengembangan industri kecil dan menengah 2002-2004, salah satu kelemahan utama pengusaha kecil di Indonesia adalah kemampuan dan agresivitas mengakses pasar para pengusaha kecil masih terbatas serta masih terbatasnya penggunaan teknologi informasi untuk mendinamisasi dan memajukan usaha kecil (Deperindag, 2002). Pemanfaatan internet oleh pelaku usaha kecil memang bukan pekerjaan yang mudah- tetapi bukan berarti tidak mungkin, terutama jika kelemahan atau persepsi yang ada pada usaha kecil di Indonesia bisa dicarikan solusinya melalui program-program yang tepat. Masalah utamanya adalah masih adanya persepsi bahwa internet adalah mahal, relatif sulit, dan perlu fasilitas pendukung yang memadai. Persepsi tersebut lebih dikarenakan pelaku usaha kecil belum memperoleh informasi yang lengkap dan benar tentang internet, atau terjadi fenomena asymetric information yang menyebabkan kesenjangan digital antara kelompok pengguna dan bukan pengguna. Berbagai studi menunjukkan bahwa persepsi dan prilaku penggunaan internet lebih banyak dipengaruhi ketidaktahuan dan ketrampilan para pelaku usaha kecil dalam penggunaan internet. Disinilah peranan sosialisasi dan pelatihan internet terhadap pelaku usaha kecil sangat diperlukan di Indonesia.
Memang masih ada faktor penghambat lain yang tidak bisa dihilangkan yaitu ketidaksesuaian jenis usaha. Untuk kasus ini internet tidak bisa sepenuhnya diterapkan dalam proses bisnis. Tetapi kalau sekedar pencarian informasi pasar dan komunikasi dengan pelanggan atau pemasok, pelaku usaha kecil masih bisa memanfaatkan internet.
Apa yang harus dilakukan?
Kebijakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet harus bersifat sistematis, integratif, dan menyeluruh. Sistematis dalam artian didukung dengan kerangka kerja yang menitikberatkan pada proses berorientasi pada kebutuhan dan karakteristik usaha serta penetapan target keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Selama ini berbagai pelatihan sudah dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau institusi pendidikan, yang lebih didorong inisitif penyelenggara pelatihan. Untuk menghindari program-program yang tumpang-tindih atau untuk lebih mensinergiskan kegiatan-kegiatan tersebut, memang diperlukan peningkatan koordinasi, komunikasi, dan pembagian peran antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam pemberdayaan usaha kecil di Indonesia. Penyusunan program yang integratif dan menyeluruh tersebut diharapkan bisa menghasilkan pemetaan atau basis data mengenai profil penggunaan teknologi informasi oleh usaha kecil. Peta tersebut selanjutnya bisa dijadikan landasan dalam strategi dan prioritas pengembangan lebih lanjut sehingga internet bisa dimanfaatkan oleh usaha kecil di Indonesia.
Diposting oleh alfa_zR di 08.33 0 komentar
Label: E-bussines